Member Login
Syekh Baha’uddin Naqsyaband QS
“Jalan kami adalah diam dalam dzikir, bekerja dalam kesadaran, dan fana dalam kehadiran Allah.”
Biografi
Syekh Baha’uddin Naqsyaband QS — nama lengkapnya Muhammad Baha’uddin bin Muhammad al-Bukhari — adalah pendiri dan pembaharu besar dalam dunia tasawuf, khususnya Thariqah Naqsyabandiyyah yang mengambil nama beliau. Beliau lahir di desa Qasr al-‘Arifan dekat Bukhara, wilayah Uzbekistan sekarang, pada masa ketika dunia Islam tengah dipenuhi kegelisahan spiritual. Sejak kecil, beliau menunjukkan kecenderungan kuat pada ibadah, kesunyian, dan dzikir.
Syekh Baha’uddin dibimbing secara rohani oleh Syekh Amir Kulal QS, dan dari gurunya itulah beliau memperoleh kedalaman dzikir khafi (dzikir dalam hati). Namun perjalanan spiritualnya tidak berhenti di situ. Ia memperoleh ilham ruhani dari para mursyid sebelumnya, bahkan secara batin diyakini menerima bimbingan langsung dari Rasulullah ﷺ dalam keadaan kasyf (penyingkapan). Dari sinilah metode dzikir khafi dan prinsip “Khalwat dar anjuman” (menyendiri di tengah keramaian) disempurnakan.
Ajaran beliau menekankan keseimbangan antara syariat, thariqah, dan hakikat. Dalam thariqahnya, Syekh Baha’uddin memadukan kedisiplinan syariat dengan dzikir batin yang halus — tanpa banyak gerak, tanpa suara, namun membakar seluruh hati menuju hadirat Ilahi. Beliau menolak kemewahan dunia, hidup sederhana, bekerja dengan tangannya sendiri, dan mengajarkan agar setiap murid menempuh jalan Allah dalam kesadaran penuh di tengah kehidupan duniawi.
Syekh Baha’uddin Naqsyaband QS wafat di kampung halamannya, Qasr al-‘Arifan, yang kemudian dikenal sebagai “Bukhara Sharif”. Makamnya hingga kini menjadi tempat ziarah ribuan pencinta Allah dari seluruh dunia, yang mencari keberkahan dari jejak langkah sang pembawa cahaya dzikir hati ini.