Member Login
Syekh Abu Yazid al-Busthami Q.S.
Sultanul ‘Arifin (Raja Para Arif Billah)
Biografi
Syekh Abu Yazid al-Busthami Q.S. adalah salah satu tokoh agung dalam dunia tasawuf, dikenal sebagai pelopor ajaran fana’ dan baqa’—lenyapnya ego manusia dalam kehadiran Ilahi dan kekekalan bersama Allah. Nama aslinya adalah Tayfur bin ‘Isa bin Surushan al-Busthami, berasal dari Bustham, wilayah Khurasan (sekarang termasuk Iran). Beliau hidup pada masa ketika ilmu fikih dan kalam berkembang pesat, namun beliau menempuh jalan yang lebih dalam, yaitu jalan penyucian jiwa dan pencapaian ma‘rifat.
Sejak kecil, Abu Yazid dikenal sangat taat dan berbakti kepada ibunya. Ia tumbuh dengan semangat spiritual yang tinggi, menjauhkan diri dari urusan dunia dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk ibadah dan khalwat. Beliau berguru kepada ulama dan ahli zuhud besar di zamannya, dan melalui suluk yang panjang, ia mencapai maqam-maqam ruhani yang tinggi.
Dalam perjalanan ruhani, Abu Yazid dikenal dengan ungkapan-ungkapan ekstatis (syathahat) yang mendalam, di antaranya ketika beliau berkata, “Subhānī mā a‘zhama sya’nī” (Maha Suci Aku, betapa agung keadaanku) — bukan sebagai bentuk kesombongan, melainkan ekspresi dari lenyapnya diri manusia dalam kehadiran Allah. Melalui ucapan dan laku spiritualnya, beliau memperkenalkan konsep fana’ fillāh dan baqa’ billāh yang kelak menjadi dasar dalam ajaran-ajaran thariqah.
Abu Yazid adalah sosok yang sangat rendah hati. Beliau sering berkata bahwa semua maqam dan karamah bukanlah tujuan, melainkan hijab jika membuat seseorang lalai dari Allah. Ajarannya menekankan pentingnya keikhlasan, penyucian hati, dan kesadaran penuh akan kehadiran Allah dalam setiap detik kehidupan.
Beliau menjadi sumber inspirasi bagi banyak tokoh tasawuf setelahnya, termasuk Imam Junaid al-Baghdadi dan para mursyid thariqah besar yang mengambil ruh ajarannya.